Cinta di Balik Makian

 Kau Suami yang Jelek



“Kau jelek.”


“Kau bodoh.”


“Kau lemot.”


Itulah kata-kata yang sering diucapkannya kepadaku.


Aneh memang. Di satu sisi, dia selalu mengatakan bahwa dia menyayangiku. Namun, di sisi lain, hinaan-hinaan itu selalu berhasil membuatku terdiam membisu.


Aku tak pernah benar-benar mengerti dengan mulutnya.


Dulu, meskipun air liurku selalu tertelan oleh kerongkongannya terlebih dahulu, ia seolah tak pernah bosan menciumku. Namun, sejak aku tak pernah melakukannya lagi, entah mengapa ia justru semakin sering memaki-makiku.


“Aku ini suamimu, Dara!”


Suatu hari, setelah untuk kesekian kalinya dia memakiku, aku akhirnya membentaknya.


Tebak apa yang terjadi?


Dia menangis.


Bukan marah. Bukan pula membalas bentakanku.


Dia justru mendekapku erat.


“Kau suami yang jelek... kau suami yang bodoh... kau suami yang lemot...” racau-nya kembali dalam pelukanku.


Aku hanya bisa menghela napas.


“Dara, sebenarnya... kau masih mencintai suamimu ini?”


Aku mengatakannya dengan suara pelan.


Dara terisak di dadaku.


“Aku mencintaimu, Kang Mas...”


Ia berhenti sejenak, kemudian melanjutkan dengan suara yang nyaris tak terdengar.


“Tapi kau sekarang tak pernah memberiku ciuman indah seperti yang sering kau berikan dulu kepadaku.”


Tangisnya kembali pecah di dadaku.


Aku memegang kedua pipinya. Perlahan, kucium keningnya yang tertutup kerudung.


Kupandangi kedua matanya.


Kemudian, perlahan, kudekatkan wajahku ke wajahnya. Bibirku mulai mendekati bibirnya.


Dan...


Ups!


Aku menghentikan gerakanku.


“Dek...” kataku sambil menahan senyum.


Dara menatapku heran.


“Aku sebenarnya tidak jelek, tidak juga bodoh, apalagi lemot.”


Aku terdiam sebentar.


“Tapi aku sedang sariawan, Dek.”


Dara menatapku beberapa detik.


Lalu...


Senyumnya merekah.


“Maaf...” bisiknya pelan.


Kami pun kembali saling memeluk.


Dan akhirnya, kami tertawa bersama.


Ternyata, terkadang dalam rumah tangga, yang dibutuhkan bukanlah siapa yang benar atau siapa yang salah.


Cukup satu pelukan, sedikit kejujuran...


dan humor kecil untuk membuat dua hati kembali tersenyum.


Karya: Ade Subasar

Pernah dipublikasikan di Kompasiana, 11 Agustus 2011.

0 Response to "Cinta di Balik Makian"

Post a Comment